A.LATAR BELAKANG
Sarden merupakan ikan laut yang terdiri dari beberapa spesies dari famili Clupeidae. Ikan ini mampu bertahan hingga kedalaman lebih dari 1.000 meter. Ikan ini cocok digunakan sebagai makanan dihidangkan dengan saus cabe atau saus tomat. Beberapa spesies mackerel yang lebih besar, seperti mackerel sirip biru (bluefin mackerel), dapat menaikkan suhu darahnya di atas suhu air dengan aktivitas ototnya. Hal ini menyebabkan mereka dapat hidup di air yang lebih dingin dan dapat bertahan dalam kondisi yang beragam. Sarden adalah ikan yang memiliki nilai komersial sedang.
ANALISIS KIMIA/PENDEKATAN LIKKETS.
produk olahan makanan yang saat ini banyak disukai orang – orang apalagi daerah perkotaan adalah kemasan pada kaleng, karena makanan yang di kemas pada kaleng lebih praktis dan tidak kotor. dan salah satu contoh makanan yang disukai adalah sarden, karna ikan yang di dalam sudah diolah sedemikian rupa hingga penikmatnya hanya tinggal menggoreng dan diberi bumbu secukupnya lalu ikan sarden siap dinikmati.tapi jangan sering mengkonsumsi makanan kaleng karna Pada umumnya, produk makanan yang dikemas dalam kaleng akan kehilangan citra rasa segarnya dan mengalami penurunan nilai gizi akibat pengolahan dengan suhu tinggi.
Satu hal lagi yang juga cukup mengganggu adalah timbulnya rasa taint kaleng atau rasa seperti besi yang timbul akibat coating kaleng tidak sempurna. Bahaya utama pada makanan kaleng adalah tumbuhnya bakteri Clostridium botulinum yang dapat menyebabkan keracunan botulinin.
Tanda-tanda keracunan botulinin antara lain tenggorokan menjadi kaku, mata berkunang-kunang dan kejang-kejang yang membawa kematian karena sukar bernapas. Biasanya bakteri ini tumbuh pada makanan kaleng yang tidak sempurna pengolahannya atau pada kaleng yang bocor sehingga makanan di dalamnya terkontaminasi udara dari luar. Untungnya racun botulinin ini peka terhadap pemanasan. Jadi kita harus memperhatikan jika ingin memilih makanan kaleng dengan cara Jangan mengkonsumsi makanan kaleng yang dicurigai sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan, seperti kaleng kembung, berkarat, penyok, dan bocor. Makanan dalam kaleng sebaiknya dipanaskan sampai mendidih selama 10 menit sampai 15 menit sebelum dikonsumsi.
IKAN tak hanya enak dikonsumsi, namun juga memiliki kandungan yang bisa membuat otak senantiasa sehat. Banyak penelitian medis menunjukan, jenis ikan yang kaya akan kandungan asam lemak omega-3 sangat bagus untuk nutrisi otak. Pasalnya, asam lemak omega-3 dalam ikan dapat menyokong fungsi sel saraf otak. Asam lemak omega-3 juga bermanfaat dalam meningkatkan kadar memori otak. Seperti yang dilansir dari Care Fair, Senin (9/11/2009), menyantap ikan satu sampai dua kali dalam sepekan, sama artinya membuat otak tetap fokus, berpikir tajam, serta cerdas dalam jangka waktu lama. Ikan salmon dan ikan sarden merupakan jenis ikan dengan asam lemak omega-3 tertinggi dari semua jenis ikan. Dengan mengonsumsi dua jenis ikan ini, Anda dapat terhindar dari serangan penyakit Alzheimer. Rajin mengonsumsi ikan merupakan salah satu cara untuk melindungi tubuh dari penurunan fungsi kognitif pada otak. Fungsi kognitif meliputi proses mental untuk mengetahui, berpikir, belajar, merasakan, mengingat, serta menilai sesuatu yang dilihat. Fungsi kognitif digunakan mulai manusia lahir sampai ketika ajal menjemput. Seperti halnya dengan organ-organ tubuh yang semakin menurun kinerjanya dimakan usia. Otak juga mengalami penurunan produktivitas. Saat fungsi kognitif hilang, maka Anda akan mudah terjangkit penyakit pikun. Penyakit pikun sering kali susah berpikir rasional. Nah, di sinilah manfaat mengonsumsi ikan salmon maupun ikan sarden. Berapa pun usia Anda, otak akan senantiasa muda dan aktif!
(sumber: Okezone.zom)
Islam dan kesehatan dalam makan.
Blog bertopik islam dan kesehatan ini akan membahas tetang makan dalam islam yang berdasar riwayat Nabi.
1. Nabi tidak suka makanan yang diawetkan atau makanan yang dimasak lagi. Pada zaman sekarang kita sudah terbiasa makan makanan yang diawetkan, dikalengkan atau makanan kemasan. Misal sarden yang berbulan-bulan dalam kaleng kita makan. Kita cuek akan behaya bahan pengawet yang ditambahkan ke dalam kaleng sarden itu.
2. Nabi tidak pernah makan dengan lauk lebih dari 2 macam.
Kita lihat sekarang dalam jamuan prasmanan yang menyediakan banyak jenis lauk, para tamu banyak yang nafsu matanya lebih besar dari kekuatan perutnya. Mereka tidak malu menggambil sampai 4 jenis lauk sekaligus, ayam, ikan, telur, sate...di embat sekaligus. Dan akhirnya banyak yang masuk sampah.
3. Nabi makan pakai tangan dan menjilati tangan sehabis makan.
Setelah hasil diskusi ternyata ada keajaiban tersendiri. Ternyata jari-jari tangan kita itu mengeluarkan keringat yang kasat mata, keringat jari tangan ini akan membantu cepatnya makanan menjadi hancur saat dicerna. Penelitian sederhana, ambil 2 wadah air, yang satu obok-obok dengan tangan, dan yang satu jangan kenakan tangan. Kemudian masukkan sayuran segar/ dedaunan ke dalam ke masing-masing wadah. Akan terlihat sayuran/daun yang ada di air yang kena tangan tadi akan rusak. Dan terlihat pula dalam dunia pegemasan makanan, maka para perkerja akan diwajibkan memakai sarung tangan.
4. Nabi melarang meniup makanan yang masih panas.
Pertama mendengar hadits ini saya kaget, kok gitu.....? kemudian saya ajak diskusi Teman Kost dari UB yang suka bidang kimia, ternyata disaat kita meniup makanan panas itu Karbon Dioksida keluar dari mulut kita dan menimpa makana yang bercampur uap air, trus katanya ada unsur "XXX" yang terbetuk (saya lupa nama kimianya) yang tidak dapat di cerna dalam tubuh. Ini yang menempel pada nasi. Maka pikiran saya melayang, berapa banyak balita yang suka di suapin pakai nasi yang ditiup-tiup. Dan ini juga pelajaran bagi kita untuk "sabar" menunggu makanan agar dingin sendiri.
5. Nabi mengambil makanan yang jatuh dan memakanya lagi.
Dalam sebuah pertemuan di istana Kerajaan ROMAWI yang telah kalah, para sahabat Nabi diundang untuk makan. Suatu ketika ada sedikit nasi sahabat yang jatuh, lalu sahabat mengambil dan memakanya. Lalu selesai pertemuan sahabat lain bertanya " Apa kau tidak malu mengabil sebutir nasi di depan para pembesar kerajaan Romawi". Sahabat berkata " Perintah Nabi lebih aku sukai daripada perhatian perbesar Kaum Rum".
6. Nabi bersabda " Seburuk-buruk bagian binatang untuk dimakan adalah bagian kepala dan perut". Maka tampaklah sekarang bahwa "jeroan" adalah makanan paling berbahaya untuk penderita "asam urat". Ada lagi sekarang "Bakso kepala Sapi". Saya terus terang merinding. Takut kandungan dua bagian binatang itu bagi kesehatan.
7. Nabi melarang makan sambil bersandar.
Karena itu adalah perbuatan orang bebal dan perbesar kerajaan-kerajaan romawi.
8. Perintah berjalan/melangkah sesudah makan
"Jangan tidur diatas makananmu" (hadits). Jadi sehabis makan hendaklah melangkahkan kaki minimal 40x. Perintah ini dulunya membuat saya bingung kok bisa ya...? ternyata setelah kita melangkah 40x sehabis makan, kita akan bersendawa (glegek dalam bahasa jawa). Sendawa ini mengeluarkan udara yang ikut masuk lambung bersamaan dengan proses kita menelan makanan. Dengan keluarnya udara di perut ini mengabibatkan tubuh terasa enak, tidak ada ganjalan udara lagi diperut.
9. Mencuci tangan sebelum memegang makanan sehabis tidur.
"Barang siapa mengambil makanan sedang dia belum mencici tangannya, padahal semalam dia tidak tau kemana tanganya, maka jangan salahkan kecuali dirinya sendiri jika dia tertimpa penyakit (hadits). Ya ternyata kita tidak tau kemana saja tangan kita sewaktu tidur, bisa ke lubang hidung (ngupil), bisa juga kena liur atau bahkan ke tempat lain atau juga waktu seseorang mimpi basah, maka biasanya tangan ini tidak sadar bergerilnya ke tembat kebanjiran tersebut.
New York, Senyawa kimia BPA (Bisphenol-A) adalah zat kimia yang berbahaya bagi sistem reproduksi, saraf, daya tahan tubuh dan menyebabkan kanker. Baru-baru ini peneliti menemukan paparan BPA pada makanan kaleng diduga lebih banyak daripada botol plastik.
Selama ini, BPA diketahui banyak terdapat di botol plastik. Studi terbaru menemukan bahwa ternyata paparan BPA diduga lebih banyak pada makanan yang dikemas dalam kaleng, seperti sarden, minuman kaleng, susu formula, cornet, buah kaleng, dan lainnya, ketimbang makanan yang dikemas dengan botol plastik.
“Paparan BPA makanan kaleng jauh lebih luas daripada botol plastik,” ujar Shanna Swan, seorang profesor dan peneliti di University of Rochester di New York, seperti dilansir dari Foxnews, Kamis (10/6/2010).
BPA merupakan senyawa kunci lapisan resin epoksi (epoxy resin) yang menjaga makanan tetap segar dan mencegah makanan tersebut berinteraksi dengan logam dan perubahan rasa.
Seperti dikutip dari Reuters, dari beberapa studi, BPA tidak hanya dikaitkan dengan kanker, tetapi juga obesitas, diabetes, penyakit jantung, kerusakan saraf, impotensi bahkan hingga kematian.
Pada makanan kaleng, lapisan tipis resin epoksi berada di antara makanan dan kaleng, yang membantu menjaganya tidak saling berinteraksi dan mencegah proses karat.
Resin ini disemprotkan ke dalam kaleng dan dapat mengering seketika. Ribuan perusahaan minuman besar internasional diduga menggunakannya untuk melapisi kemasan kaleng produksi mereka.
Tanpa lapisan resin ini, makanan yang dikemas akan lebih cepat hancur. Kaleng yang kurang senyawa kimia ini pun akan meledak di rak-rak toko bila kaleng tersebut bereaksi dengan logam.
Pertama kali disintesis pada tahun 1891, BPA adalah pengeras komersial, yang banyak digunakan dalam berbagai aplikasi, mulai dari perahu plastik hingga alat penghitung uang.
Sebagai senyawa penting dalam lapisan resin epoksi, BPA bertindak sebagai bagian dari dasar polimer kompleks, dan pertama kali digunakan pada tahun 1940 dalam makanan kaleng.
Yang lebih mengkhawatirkan, menurut Prof Swan, paparan BPA diduga paling banyak ditemukan pada kemasan kaleng susu formula, baik susu formula untuk balita maupun ibu hamil.
Hugh Taylor, seorang profesor dan peneliti di Universitas Yale yang membantu memimpin penelitian tentang BPA mengatakan, bahan kimia ini mengubah cara merespons gen estrogen dan membuka peluang bayi di dalam rahim terkena kanker di kemudian hari.
“Saya mengatakan pada pasien hamil saya untuk menghindari produk yang mengandung senyawa berbahaya ini. Bahkan paparan singkat pada kehamilan dapat menyebabkan kerusakan permanen,” ujar Hugh Taylor yang juga merupakan seorang ginekolog.
Karena BPA telah dianggap aman sejak lama untuk kemasan kaleng, hanya sedikit penelitian yang dilakukan untuk dapat menemukan pengganti senyawa yang ternyata berbahaya ini.
“Saat ini, tidak ada resin epoksi jenis lain yang dapat memberikan tingkat keamanan pangan, stabilitas durasi, dan efektivitas biaya untuk mempertahankan daya simpan buah dan sayuran dalam kaleng,” ujar Steve Russell, kepala divisi plastik untuk American Chemistry Council, sebuah grup perdagangan industri.